JANGAN PERGI BUNDA
Bunda
engkau adalah semangatku
Tak ada
engkau apa jadiku
Engkau
bagaikan bunga kan selalu bersemi
Disaat
engkau sakit
Terkadang
aku takut engkau tinggalkan
Sirine yang
panjang berbunyi
Ku
mendengar
Terasa
berdebar hatiku
Mobil
itu telah membawamu
Entah
kemana engkau pergi
Engkau
pulang kerumah
Dengan
mata terpejam rapat
Aku
tersentak melihatnnya
Engkau
kubangunkan
Tetapi
engkau diam tak bergerak
Saat itu
hatiku berkata jangan tinggalkan aku bunda
KENANGANKU
KENANGANKU
Engkau bagai belahan jiwaku
Engkau semangat hidupku
Engkau jadi kenanganku
Waktu ke waktu
Tahun ke
tahun
Engkau
selalu temani hidupku
Kini engkau tiada
Entah hilang kemana
Hidupku sunyi tanpanya
Sekarang
berada dalam dunia berbeda
Kini
tinggal ku sendiri tak berteman
Engkau hanya tinggalkan kenangan
Kenangan yang memilukan
Hingga
kini,..
Hanya
kenanganmu temaniku
SESALKU
Dulu ku
abaikanmu
Dulu ku
remehkanmu
Dulu ku
tak hiraukanmu
Sekarang
ku menangis
Sekarang
juga ku tertampar
Sekarang
juga hatiku terasa perih
Kini apa
dayaku
Tuk ucap
sebuah kata
Kata
cukup sederhana
Tapi ku
tak bisa ucapkan
Karna
sebuah dunia
Dunia
berbeda
Ku ingin
ucap kata sesalku
Maafkan aku IBU
SUARA BUNDA
Saat
kutatap langit nan jauh dan gelap
Terdapat sebuah bintang pandangiku
Ia mengedipkan cahaya
Seakan-akan
ia menyapaku
Malam
itu suasana makin sunyi
Tak
ada sedikit suara pun yang terdengar
Seakan-akan dunia ini
milikku sendiri
Sayup-sayup kudengar suara lantunan
Membangunkan aku tanpa keraguan
Makin malam makin jelas
Suara itu sanggup sejukkan
hatiku
Yang
saat itu gundah dilanda badai
Kini
badai itu tlah berhasil kau taklukkan
Dan
berubah jadi angin semilir
Malam yang sunyi
Kini berubah
Walau masih sunyi senyap
Tapi tenang tanpa ketegangan
Ayat demi ayat kau baca
Surat
demi surat kau lantunkan
Malam
penuh lukisan berharga
MUNAFIK
Dengan hati tertutup debu
Hanya ucapan angin yang menembus pilu
Dengan wajah diselimuti api
Diiringi pandangan mata sekejap tapi buta
Padahal dia bukan mawar seputih melati
Terlena dengan keharuman diri
Keringnya sebuah harapan
Kokohnya gedung kemunafikan
Penyesalan yang menghampiri
Tak
membuat sejuk sosok ini
HARAPAN
Hidup
ini tak tentu
Ketika
ku lelap terasa indah
Kuterbangun
terasa dihempas tak kira
Kutunggu
sampai datang waktu indah dalam mimpi
Kuharap
hari itu kan datang
Sampai
tiba waktuku nanti
Hanya
harap yang kupinta
Mengharap
suatu kan tiba dalam mimpi
Seolah
kan kuwujudkan
Harapan
bukan sekedar harapan
Harapan
datang harapan kan jadi indah
Mengukir
sejuta pengalaman
Sejuta
kenangan
Sejuta
perasaan
Dan
sejuta cinta
Harapan nyata yang tak terwujud
Bukan untuk dipendam jadi dendam
Harapan nyata yang tak terwujud
Jadikan suatu bintang yang harus
tetap kan kau wujudkan
Harapanmu adalah nyawa hidupmu
MIMPIKU
Ku tatap dari jauh
Ku pandang langkah lajunya
Ku dengar suaranya
Hanya
aku yang tahu
Hanya
aku yang rasa
Hanya
aku yang pintanya
Berharap tahu
Berharap mungkin
Berharap milikku
Tahu
ku tak tahu
Tahu
ku tak mungkin
Tahu
ku tak miliki
Terjawab apa dalam benak
Terjawab apa yang ku harap
Terjawab apa yang kan terjadi
Itulah
khayalku
Itulah
mimpiku
Itulah ingin kuwujudkanAKU
Aku itu aku
Tak kan berubah bukan aku
Aku itu hanyalah aku
Sampai kapan pun itu aku
Aku itu tetap aku
Tak kan ada yang dapat merubah
Aku itu pasti aku
Yang sesuai denganku
Meski
ada yang datang Aku itu harus tetap jadi aku
Bukan orang asing
Ketika aku bukan aku
Aku hanyalah segumpal keputus asaan
Aku hanyalah setitik ketakbergunaan
Dan,.
Aku hanyalah segenggam kelemahan
Kata terangkai
kata Hanyalah dari aku
Kobaran yang terhembus
Juga hanya dari aku
KISAH
Awal ku
tawa
Awal ku
tak mengharap
Awal ku
tak tahu
Awal ku
tak maksud kata itu
Semakin jauh semakin ku tanya
Semakin jauh semakin ku rasa
Semakin jauh beri harap
Semakin jauh beri kata
Kata
terucap ku tak hirau
Ku tahu
itu hanya kata
Kata
terucap ku tak gapai
Ku tahu
itu hanya tawa
Akhir ku tahu hanya anggapan
Akhir ku
tahu rasa tak harapkan
Akhir ku
tahu hanya karangan
Akhir ku
tahu cukup sampai disini
TUMPUAN
Datang
disaat patah
Ku tak
pernah tahu itu
Yang ku
tahu tak sendiri
Datang seolah mencari
Tahu tak menjauh
Seolah hanya tumpuan
Aku tahu
setelah terucap
Benakku
menuai tanya
Setelah
ku jawab
Ternyata
bukan jawab
Aku hanya tumpuan saat sepi
Saat terisi seolah aku bukan siapa
Walau masih jawab tanya yang ada
Tapi jawab sudah beda
Berujar
tak lupa
Tapi
ucap yang dulu tak pernah ku jawab lagi
Aku
hanyalah tumpuan kesepiannya
Penghibur
saat sedih
Dan pengisi kekosongan yang
belum terisiPENGISI HATINYA
Aku yang
selalu memulai
Ku
tanggapi kata itu
Ku tahu
itu biasa
Tapi
setelah terucap kisah itu
Ku tanya
dalam fikir
Ku kira aku pengisi kekosongan
Ternyata tidak
Setelah ku tahu kata terangkai awal
Berlalu dalam hidup
Prasangka
itu benar
Hidup
yang belalu
Menampakkan
nyatanya
Aku
hanya pengisi kesepian
Tak
pernah memulai lagi
Tak pernah berkata lagi
Kini
benar aku yang harus memulai
Berharap
ku tak dilupakan
Berharap
ku tetap ditanya
Tapi aku hanya pengisi kesepiannya
Tapi aku hanya pengisi kekosongannya
SENDIRIKU
Kesamaan
menyatukan segalanya
Kebersamaan
ini berarti tak ingin berhenti
Ketika
setitik luka terukir
Keinginan
hapus hilangkan bara
Senyum canda tawa hiasi selalu
Seolah kutemukan tangan yang mampu
genggamku
Seraya senangkan penggegamku
Semua kan kulebur deminya
Namun
tak mampu ku sepenuhnya
Nyata
dulu buatku rapuh
Buat hati tak kan bisa kuberi
Diriku sepenuhnya hanya diriku
Diriku hanya mampu dibagi suara
Bukan aku membagi suara
DIKHIANATI
Hanya
aku yang tau perasaanku
Hanya
aku yang mengerti persaanku
Perasaan
dikhianati
Perasaan
dibodohi
Siapa
yang salah?
Akukah?
Diakah?
Atau
wanita itu?
Yang
pasti kau dan wanita itu
Perasaan
ini akan terus mendoakan
Hati ini
akan terus menjerit
Sampai
benar-benar puas
Sampai
benar-benar kau sadar
Ini
menyiksaku






0 komentar:
Posting Komentar